![]() |
Aceh | Acehtraffic.com - Pemasangan bendera merah putih di Aceh bukan karena kesadaran rakyatnya seperti yang diberitakan dibeberapa media, melainkan karena rumah-rumah warga didatangi oleh aparatur gampong yang telah dititip pesankan oleh kodam atau koramil setempat untuk mengibarkan bendera merah putih disetiap rumah selama bulan Agustus. Masyarakat sipil sudah barang tentu tidak mau berurusan dengan siloreng ini maka mau tak mau bendera merah putih dipasangkan didepan rumahnya, sehingga kesan yang nampak di Aceh, rakyatnya mencintai tanah air atau menunjukkan nasionalisme yang tinggi.
Kejadian ini belakangan diketahui ketika di awal bulan Agustus, ketika hanya kantor instansi pemerintah saja yang menaikkan atau memasang embel-embel bendera merah putih, sementara rumah penduduk hampir rata-rata tidak ada yang memasang bendera hingga akhirnya beberapa aparat keamanan melakukan patroli dan menegur penghuni rumah.
![]() |
Entah kemerdekaan dalam arti apa yang dipahami pemerintah hingga sekarang khususnya pemerintah Aceh. Cukupkah hanya mengibarkan bendera selama sebulan penuh untuk menunjukkan ke Jakarta bahwa Rakyat Aceh tidak kalah nasionalisme dengan provinsi lain. Atau jangan-jangan hanya untuk mendapat ucapan selamat dan simpatik dalam pidato kemerdekaan SBY dengan menyisipkan Aceh sebagai daerah yang perlu diperhatikan.
Disaat carut marut perekonomian semakin gerah, tanah masyarakat adat dengan gampang dicaplok melayani permintaan konglomerat hingga membuat rakyat semakin konglomelarat.
Air bersih sulit didapat hingga mengharuskan rakyatnya membeli air padahal katanya dari tahun 1945 hingga sekarang Indonesia tanah airku, tanah sorga berlimpah ruah kekayaan alam dan ladang minyak di Sumatera. Namun jangankan mencicipi minyak layaknya juragan minyak, untuk mendapatkan air bersih saja rakyatnya susah minta ampun dan terpaksa membeli.
Air bersih sulit didapat hingga mengharuskan rakyatnya membeli air padahal katanya dari tahun 1945 hingga sekarang Indonesia tanah airku, tanah sorga berlimpah ruah kekayaan alam dan ladang minyak di Sumatera. Namun jangankan mencicipi minyak layaknya juragan minyak, untuk mendapatkan air bersih saja rakyatnya susah minta ampun dan terpaksa membeli.
Belum lagi listrik yang dimonopoli, cukup untuk merampas uang pelanggannya dengan kualitas penawaran teramat buruk. Bayar tidak boleh telat, tapi listrik mati-hidup tanpa mau tahu kerugian pelanggan.
Dibulan Agustus ini pejabat yang baru belajar menjadi nakhoda di tanah rencong hanya bisa memerintah menaikkan bendera, menyirami rakyat dengan kalimat-kalimat puitis tidak lupa membubuhi kalimat UUPA dan MoU Helsinki bagaikan bumbu penambah rasa sedap yang membuat perut rakyatnya bermayoritaskan fakir dan miskin semakin keroncongan.
Dibulan Agustus ini pejabat yang baru belajar menjadi nakhoda di tanah rencong hanya bisa memerintah menaikkan bendera, menyirami rakyat dengan kalimat-kalimat puitis tidak lupa membubuhi kalimat UUPA dan MoU Helsinki bagaikan bumbu penambah rasa sedap yang membuat perut rakyatnya bermayoritaskan fakir dan miskin semakin keroncongan.
Beberapa pemberitaan di media juga menyebutkan Peringatan 67 tahun kemerdekaan Indonesia berlangsung semarak dan meriah bahkan diantaranya menggunakan kata “khidmat” untuk menunjukkan kenyamanan. Barangkali memang iya jika yang semarak itu adalah angka pengangguran meroket tajam, yang meriah itu KKN diseluruh penjuru, ilegall loging atau penulis yang suka mengatakannya sebagai pencuri kayu dan menjual darah korban konflik untuk keuntungan kelompoknya, serta raungan anak-anak miskin disetiap penjuru lorong kecil dibalik tembok tinggi Exxon mobil meratapi dengan penuh khidmat orang tuanya yang sakit-sakitan mengais rezeki demi sesuap nasi.
![]() |
Gelar acara seremonial upacara bendera sementara rakyat masih banyak yang susah. Pantas saja bendera merah putih banyak yang ogah diderek hingga ujung tiang, meskipun paskibra telah dilatih keras sebelumnya. Tidak sedikit yang macet ditengah tiang, tidak sedikit pula yang melayang lepas dari tiang bendera.
Terlepas dari faktor kesengajaan atau tidak barangkali bendera merah putih juga turut prihatin dengan negeri ini, pemerintah yang hanya bisa memerintah tapi tidak tahu bagaimana cara memerintah.
Semoga dengan bertambah tuanya Indonesia tidak bertambah omongkosongnya. Karena kebanyakan semakin panjang jalan sejarah semakin banyak pula omongkosongnya. | AT | HR | Foto: Serambi/Bedusaini |
Terlepas dari faktor kesengajaan atau tidak barangkali bendera merah putih juga turut prihatin dengan negeri ini, pemerintah yang hanya bisa memerintah tapi tidak tahu bagaimana cara memerintah.
Semoga dengan bertambah tuanya Indonesia tidak bertambah omongkosongnya. Karena kebanyakan semakin panjang jalan sejarah semakin banyak pula omongkosongnya. | AT | HR | Foto: Serambi/Bedusaini |














Posting Komentar