
Acehtraffic.com - Perwakilan Republik Islam Iran di PBB dalam sebuah pernyataan memperingatkan bahwa Tehran memiliki kemampuan cukup untuk membela diri dan akan membalas dengan kekuatan maksimal terhadap setiap serangan di wilayahnya.
Statemen tersebut sebagai reaksi atas pidato Perdana Menteri Rezim Zionis Israel Benyamin Netanyahu di sidang Umum PBB ke-67.
Dalam pidatonya, Netanyahu tidak menanggapi protes para pemimpin negara-negara di kawasan Timur Tengah atas kondisi yang memburuk di Palestina pendudukan. Namun ia justru mengulang tuduhan tak berdasar kepada Iran terkait program nuklir negara ini dan melontarkan ancaman terhadap Tehran.
Di Majelis Umum PBB, Netanyahu memaparkan tahapan produksi bom nuklir dan menekankan pentingnya penetapan garis merah terkait program nuklir Iran.
Saat menjelaskan tahap-tahap pengayaan uranium di Iran dan seberapa dekat negara ini dengan produksi bom nuklir, Netanyahu mengangkat sebuah papan grafik bergambar bom dan mengatakan, Tehran telah melalui tahap pertama dan sekarang sedang memasuki tahap kedua, hingga musim semi mendatang atau paling lambat sampai musim panas tahun depan, Iran telah menyelesaikan tahap kedua dan memasuki tahap terakhir. Setelah itu hanya perlu waktu beberapa bulan atau minggu untuk memproduksi bom nuklir pertamanya.
Menyikapi hal itu, para pengamat berpendapat bahwa apa yang dipaparkan oleh PM Israel di Majelis Umum PBB justru merupakan deklarasi rezim Zionis kepada dunia bahwa Tel Aviv memang memiliki senjata pemusnah massal.
Wakil Duta Besar Republik Islam Iran untuk PBB Eshaq AleHabibdalam reaksinya atas klaim Netanyahu mengatakan bahwa perdana menteri Zionis dengan bersandarkan pada sebuah gambar tak berdasar dan imajiner (khayalan) berupaya menjustifikasi ancaman militernya terhadap Iran. Padahal ancaman dengan kekerasan terhadap negara-negara anggota PBB telah melanggar Piagam PBB dan hukum internasional.
Di sisi lain, ancaman itu dilontarkan pejabat senior Tel Aviv ketika sebelumnya Nabil el-Arabi, Sekretaris Jenderal Liga Arab dalam pertemuan di Dewan Keamanan PBB (DK PBB) menegaskan perealisasian atas resolusi-resolusi Dewan Keamanan untuk mengecam pendudukan Israel atas Palestina.
Sementara itu, Presiden Mesir Muhammad Mursi dalam pidatonya di Majelis Umum PBB menyinggung bahaya nuklir Israel dan menuntut Tel Aviv untuk bersedia bergabung dalam penjanjian pelarangan produksi dan perluasan senjata nuklir.
Negara-negara regional dan internasional terus memprotes Israel atas agresi dan kejahatannya di Palestina selama bertahun-tahun. Tidak hanya itu, Tel Aviv juga dikecam karena rezim ilegal ini adalah satu-satunya rezim di kawasan yang memiliki senjata nuklir dan tidak bersedia menandatangani Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT).
Oleh sebab itu, Israel berupaya menebarkan Iranphobia di PBB untuk mempengaruhi dan mengalihkan opini publik atas kejahatannnya. Namun perlu diperhatikan bahwa aksi Netanyahu di podium Majelis Umum PBB itu justru menunjukkan kegagalan atas upayanya untuk menjustifikasi ancaman serangan terhadap Iran.| AT | M | Irib |
Statemen tersebut sebagai reaksi atas pidato Perdana Menteri Rezim Zionis Israel Benyamin Netanyahu di sidang Umum PBB ke-67.
Dalam pidatonya, Netanyahu tidak menanggapi protes para pemimpin negara-negara di kawasan Timur Tengah atas kondisi yang memburuk di Palestina pendudukan. Namun ia justru mengulang tuduhan tak berdasar kepada Iran terkait program nuklir negara ini dan melontarkan ancaman terhadap Tehran.
Di Majelis Umum PBB, Netanyahu memaparkan tahapan produksi bom nuklir dan menekankan pentingnya penetapan garis merah terkait program nuklir Iran.
Saat menjelaskan tahap-tahap pengayaan uranium di Iran dan seberapa dekat negara ini dengan produksi bom nuklir, Netanyahu mengangkat sebuah papan grafik bergambar bom dan mengatakan, Tehran telah melalui tahap pertama dan sekarang sedang memasuki tahap kedua, hingga musim semi mendatang atau paling lambat sampai musim panas tahun depan, Iran telah menyelesaikan tahap kedua dan memasuki tahap terakhir. Setelah itu hanya perlu waktu beberapa bulan atau minggu untuk memproduksi bom nuklir pertamanya.
Menyikapi hal itu, para pengamat berpendapat bahwa apa yang dipaparkan oleh PM Israel di Majelis Umum PBB justru merupakan deklarasi rezim Zionis kepada dunia bahwa Tel Aviv memang memiliki senjata pemusnah massal.
Wakil Duta Besar Republik Islam Iran untuk PBB Eshaq AleHabibdalam reaksinya atas klaim Netanyahu mengatakan bahwa perdana menteri Zionis dengan bersandarkan pada sebuah gambar tak berdasar dan imajiner (khayalan) berupaya menjustifikasi ancaman militernya terhadap Iran. Padahal ancaman dengan kekerasan terhadap negara-negara anggota PBB telah melanggar Piagam PBB dan hukum internasional.
Di sisi lain, ancaman itu dilontarkan pejabat senior Tel Aviv ketika sebelumnya Nabil el-Arabi, Sekretaris Jenderal Liga Arab dalam pertemuan di Dewan Keamanan PBB (DK PBB) menegaskan perealisasian atas resolusi-resolusi Dewan Keamanan untuk mengecam pendudukan Israel atas Palestina.
Sementara itu, Presiden Mesir Muhammad Mursi dalam pidatonya di Majelis Umum PBB menyinggung bahaya nuklir Israel dan menuntut Tel Aviv untuk bersedia bergabung dalam penjanjian pelarangan produksi dan perluasan senjata nuklir.
Negara-negara regional dan internasional terus memprotes Israel atas agresi dan kejahatannya di Palestina selama bertahun-tahun. Tidak hanya itu, Tel Aviv juga dikecam karena rezim ilegal ini adalah satu-satunya rezim di kawasan yang memiliki senjata nuklir dan tidak bersedia menandatangani Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT).
Oleh sebab itu, Israel berupaya menebarkan Iranphobia di PBB untuk mempengaruhi dan mengalihkan opini publik atas kejahatannnya. Namun perlu diperhatikan bahwa aksi Netanyahu di podium Majelis Umum PBB itu justru menunjukkan kegagalan atas upayanya untuk menjustifikasi ancaman serangan terhadap Iran.| AT | M | Irib |











Posting Komentar