
Acehtraffic.com - Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengatakan sanksi ilegal Uni Eropa terhadap Republik Islam mirip dengan pedang bermata dua yang mendorong kondisi Eropa lebih buruk.
"Mereka (negara-negara Eropa) dalam istilah mereka sendiri, memboikot Iran selama lima tahun. Tapi pertanyaannya adalah apakah situasi ekonomi di Iran atau Eropa yang lebih buruk hari ini? " kata Ahmadinejad, mengutip Press TV Kamis 18 Oktober 2012.
"Permusuhan terhadap Republik Islam dimulai ketika bangsa Iran menggulingkan rezim Shah yang didukung Barat pada tahun 1979. dan Barat sejak itu menggunakan setiap alasan untuk memusuhi Republik Islam," tegasnya.
Para menteri luar negeri Uni Eropa Senin (15/10) menyetujui putaran baru sanksi terhadap Iran atas program energi nuklirnya, meskipun PBB memperingatkan konsekuensi kemanusiaan dari larangan sebelumnya.
Langkah terbaru Uni Eropa ini bertentangan dengan pernyataan Sekjen PBB mengenai konsekuensi kemanusiaan dari embargo sebelumnya yang ditetapkan. Ban Ki-moon (5/10) memperingatkan bahwa sanksi Barat ini menargetkan mata pencaharian rakyat Iran.
Sanksi rekayasa ilegal yang dikenakan terhadap Iran berdasarkan tuduhan tak berdasar bahwa Tehran sedang mengejar tujuan non-sipil dalam program energi nuklirnya.
Iran menolak tuduhan tersebut. Sebagai penandatangan berkomitmen untuk traktat Non-Proliferasi nuklir (NPT) dan anggota Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Iran berhak menggunakan teknologi nuklir untuk tujuan damai.
Selain itu, IAEA telah melakukan inspeksi berbagai fasilitas nuklir Iran tapi tidak pernah menemukan bukti yang menunjukkan bahwa program nuklir sipil Iran telah dialihkan ke arah produksi senjata nuklir.
Pada tanggal 22 Februari lalu, Pemimpin Revolusi Islam Iran Ayatullah Udzma Sayyid Ali Khamenei mengeluarkan fatwa bahwa kepemilikan senjata nuklir merupakan dosa besar dari pandangan logika dan agama.
Ayatullah Khamenei dalam pidatonya di hadapan puluhan ribu warga di Provinsi Khorasan Utara Rabu (10/10) mengatakan, "Sekarang, musuh kita memperluas sanksi. Sanksi bukan merupakan masalah kemarin atau hari ini. Sanksi telah ada sejak awal, mereka mengintensifkan sanksi, yang tidak efektif, mereka meningkatkannya lagi, ini juga tidak akan berhasil, "
Rahbar menegaskan bahwa AS dan sejumlah negara Eropa berusaha menghubungkan sanksi dengan program energi nuklir Iran, tapi alasan utama di balik sanksi anti-Iran bukan masalah nuklir melainkan perlawanan bangsa Iran melawan hegemoni global.| AT | M | Irib |
"Mereka (negara-negara Eropa) dalam istilah mereka sendiri, memboikot Iran selama lima tahun. Tapi pertanyaannya adalah apakah situasi ekonomi di Iran atau Eropa yang lebih buruk hari ini? " kata Ahmadinejad, mengutip Press TV Kamis 18 Oktober 2012.
"Permusuhan terhadap Republik Islam dimulai ketika bangsa Iran menggulingkan rezim Shah yang didukung Barat pada tahun 1979. dan Barat sejak itu menggunakan setiap alasan untuk memusuhi Republik Islam," tegasnya.
Para menteri luar negeri Uni Eropa Senin (15/10) menyetujui putaran baru sanksi terhadap Iran atas program energi nuklirnya, meskipun PBB memperingatkan konsekuensi kemanusiaan dari larangan sebelumnya.
Langkah terbaru Uni Eropa ini bertentangan dengan pernyataan Sekjen PBB mengenai konsekuensi kemanusiaan dari embargo sebelumnya yang ditetapkan. Ban Ki-moon (5/10) memperingatkan bahwa sanksi Barat ini menargetkan mata pencaharian rakyat Iran.
Sanksi rekayasa ilegal yang dikenakan terhadap Iran berdasarkan tuduhan tak berdasar bahwa Tehran sedang mengejar tujuan non-sipil dalam program energi nuklirnya.
Iran menolak tuduhan tersebut. Sebagai penandatangan berkomitmen untuk traktat Non-Proliferasi nuklir (NPT) dan anggota Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Iran berhak menggunakan teknologi nuklir untuk tujuan damai.
Selain itu, IAEA telah melakukan inspeksi berbagai fasilitas nuklir Iran tapi tidak pernah menemukan bukti yang menunjukkan bahwa program nuklir sipil Iran telah dialihkan ke arah produksi senjata nuklir.
Pada tanggal 22 Februari lalu, Pemimpin Revolusi Islam Iran Ayatullah Udzma Sayyid Ali Khamenei mengeluarkan fatwa bahwa kepemilikan senjata nuklir merupakan dosa besar dari pandangan logika dan agama.
Ayatullah Khamenei dalam pidatonya di hadapan puluhan ribu warga di Provinsi Khorasan Utara Rabu (10/10) mengatakan, "Sekarang, musuh kita memperluas sanksi. Sanksi bukan merupakan masalah kemarin atau hari ini. Sanksi telah ada sejak awal, mereka mengintensifkan sanksi, yang tidak efektif, mereka meningkatkannya lagi, ini juga tidak akan berhasil, "
Rahbar menegaskan bahwa AS dan sejumlah negara Eropa berusaha menghubungkan sanksi dengan program energi nuklir Iran, tapi alasan utama di balik sanksi anti-Iran bukan masalah nuklir melainkan perlawanan bangsa Iran melawan hegemoni global.| AT | M | Irib |











Posting Komentar