Banda Aceh | Acehtraffic.com- Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Aceh menyayangkan pemindahan satwa keluar Aceh karena provinsi paling barat Indonesia itu dinilai masih memiliki kawasan margasatwa cukup luas.
Pemindahan satwa keluar Aceh dinilai upaya mengkomersilkan disinyalir ditempatkan dikebun binatang sebagai hiburan. Jumat 5 Oktober 2012.
"Hutan Aceh masih cukup luas untuk menampung satwa tersebut. KEL (Kawasan Ekosistem Lauser) misalnya, memiliki kawasan suaka margasatwa cukup luas," kata TM Zulfikar, kepada wartawan, Rabu 4 Oktober 2012.
Pernyataan ini terkait pemberitaan matinya Harimau dalam penerbangan denganm pesawat Garuda menuju Jatim Park II.
Selain itu, Zulfikar juga menyayangkan pemberian rekomendasi pengiriman tiga jenis satwa sebanyak 4 ekor tersebut yang berakhir dengan matinya salah satu satwa, itu perlu dilakukan penyelidikan untuk memastikan kematian tersebut apakah merupakan unsur kesengajaan atau kesalahan dalam prosedur pengiriman.
“Pengiriman satwa terkesan tertutup. Kami (Institusi pemerhati lingkungan-red) tidak pernah diberitahu adannya proses pengiriman satwa keluar Aceh,”kata Zulfikar meski pihak BKSDA mengaku telah memiliki rekomendasi pengiriman.
Zulfikar menjelaskan sebelumnya pemerintah Aceh pernah melarang pengiriman satwa keluar Aceh melalui peraturan Gubernur, dalam kasus ini kalaupun izinnya ada, harus diperjelas alasan pemberiannya.
“Jika itu dilanggar ini menguatkan bukti ketidakseriusan pemerintah dalam menyelamatkan satwa yang dilindungi,”ujar Zulfikar dengan nada prihatin.
Dalam pemberitaan sebelumnya kematian harimau yang ditangkap di Aceh Selatan 26 November 2010, saat transit di Bandara Polonia Medan perlu segera diselidiki untuk memastikan ada tidaknya unsur kesengajaan.
”Ini untuk memperjelas apakah ada unsur atau kepentingan lain dibalik kematian harimau ini,”pungkas Zulfikar.
Ir. Amon Zamora Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh mengaku pengiriman satwa tersebut telah memenuhi prosedur. Zamora juga mengaku telah membentuk tim guna mengusut penyebab kematian harimau tersebut.
“Ada banyak kemungkinan tapi kita telah melakukannya sesuai prosedur, dan akan melaporkan jika disana terjadi kelalain ,’kata Amon Zamora.
“Bisa jadi Harimau yang diberi nama Tengku Agam itu mati karena kekurangan oksigen. Karena mungkin saat pengembalian tempat yang disediakan untuk kargo harimau ini tidak seperti saat dibawa pertama, sehingga terjadi kekurangan oksigen,”ujar Amon sembari menyebut sudah berkordinasi dengan pihak garuda.
“Hasil visum juga sudah kita berikan ke pihak Garuda karena mereka minta.Kita terbuka saja,”ujarnya.
Lebih lanjut Amon mengatakan bangkai harimau yang mati telah ditanam pihak BKSDA Aceh. Selain ditanam dan dibakar, beberapa ditinggal untuk kepentingan berita acara pertanggungjawaban pihaknya ke kementrian kehutanan.
Sementara itu General Manager Garuda Indonesia Aceh, Dwi Kusbiantoro juga mengaku telah membentuk team untuk melakukan investigasi guna menemukan titik terang kasus kematian harimau.
“Kami masih klarifikasi dan investigasi dengan tim mudah-mudahan segera ada titik terang dan nanti akan kami informasikan lebih lanjut,”tulis Dwi Kusbiantoro dalam pesan singkat kepada wartawan. | AT | RD |












Posting Komentar