
Banyak orang tua yang mengkhawatirkan pertumbuhan anak menjadi tidak normal, terutama ketika melihat prilaku anak lelakinya sejak awal sudah menunjukkan gaya –gaya gemulai dan sudah mengarah bakal jadi Bencong.
Banyak orang tua yang menganggap bahwa itu adalah takdir yang tidak bisa di ubah atau di obati, lagian ketika si orang tua meyakini bahwa itu bawaan lahir, maka golongan orang tua ini justru tidak melakukan tindakan apapun untuk anak laki-lakinya, malah justru menikmati gaya –gaya menarik yang di pertontonkan buah hatinya.
Namun banyak juga orang tua yang berkonsultasi kemana-mana untuk mencari solusi bagaimana mengantisipasi agar si anak lakinya dapat jadi laki yang benar –benar tidak laki laki yang bergaya perempuan. Namun terkadang usaha tersebut ada yang berhasil ada juga tidak. Tetapi paling tidak golongan orang tua ini sudah berusaha.
TrafficResearch coba mencari solusi tentang kenyataan ini, ini bukanlah lah riset ilmiah, tetapi yang di temukan oleh pusat riset media acehtraffic.com adalah pengalaman beberapa orang tua di Pantai Timur Aceh.
Katakanlah Bapak itu namanya Maun ia memiliki seorang anak lelaki, namun ketika usia SD gayanya mulai menampakkan gaya keperempuanan, bicaranya gemulai dan terlihat berlagak perempuan. Bapak Maun sangat khawatir jika kelak anaknya menjadi Bencong, karena sejatinya ia menginginkan anak lelakinya yang gagah dan perkasa.
Bapak Maun ini bukanlah komisaris di Pertamina, atau pejabat teras di perusahaan besar sekelas Medco, atau karyawan PT Arun, atau pegawai negeri. Tetapi ia hanyalah petani sawah yang tinggal di pedesaan. Hari-hari ia kesawah dan menggemukkan sapi, terkadang jika ada waktu ia juga menerima orderan naik kelapa.
Suatu hari ia mendapat orderan naik kelapa, hari itu ia sanggup menghabiskan 35 batang pohon kelapa, setelah ia panjat dan petik buah kelapa ia beristirahat di bawah pohon kelapa, tak lain minumannya adalah jus kelapa muda. Waktu itu anaknya yang sudah bersekolah di SMP pun ikut bersama Pak Maun.
Ide cemerlang pun lahir di tengah cengas –cengos nafasnya, ia berpikir bahwa salah satu cara untuk membunuh gaya gemulai anak laki –lakinya dengan menyuruhnya bekerja berat.
Karena anaknya masih anak-anak, iapun belum memberinya tugas naik kelapa, tapi untuk pertama, si anak di wajibkan untuk mencari rumput dan mengangkut dengan cara ngepok. Dengan cara itu pak Maun berharap anaknya saat ngepok goni rumput akan mengerahkan tenaga, sehingga Gaya gemulai dapat hilang dengan sendirinya.
Praktik itu ada hasilnya, anaknya mulai berkurang gaya gemulainya, dan baru kemudian test cash selanjutnya, yaitu memintanya untuk membantu ia naik kelapa, pertama diminta satu atau dua batang.
Dengan cara naik kelapa Pak Maun membayangkan bahwa kekuatan kaki dan seluruh badan akan terkonsentrasi dan tidak ada peluang “Peubencong-bencong dro” (Bergaya Gemulai). Ternyata strategi Pak Maun membawa hasil, tamat SMA anak lakinya betul-betul laki-laki……ha..ha... AT | RD | TrafficResearch|
Banyak orang tua yang menganggap bahwa itu adalah takdir yang tidak bisa di ubah atau di obati, lagian ketika si orang tua meyakini bahwa itu bawaan lahir, maka golongan orang tua ini justru tidak melakukan tindakan apapun untuk anak laki-lakinya, malah justru menikmati gaya –gaya menarik yang di pertontonkan buah hatinya.
Namun banyak juga orang tua yang berkonsultasi kemana-mana untuk mencari solusi bagaimana mengantisipasi agar si anak lakinya dapat jadi laki yang benar –benar tidak laki laki yang bergaya perempuan. Namun terkadang usaha tersebut ada yang berhasil ada juga tidak. Tetapi paling tidak golongan orang tua ini sudah berusaha.
TrafficResearch coba mencari solusi tentang kenyataan ini, ini bukanlah lah riset ilmiah, tetapi yang di temukan oleh pusat riset media acehtraffic.com adalah pengalaman beberapa orang tua di Pantai Timur Aceh.
Katakanlah Bapak itu namanya Maun ia memiliki seorang anak lelaki, namun ketika usia SD gayanya mulai menampakkan gaya keperempuanan, bicaranya gemulai dan terlihat berlagak perempuan. Bapak Maun sangat khawatir jika kelak anaknya menjadi Bencong, karena sejatinya ia menginginkan anak lelakinya yang gagah dan perkasa.
Bapak Maun ini bukanlah komisaris di Pertamina, atau pejabat teras di perusahaan besar sekelas Medco, atau karyawan PT Arun, atau pegawai negeri. Tetapi ia hanyalah petani sawah yang tinggal di pedesaan. Hari-hari ia kesawah dan menggemukkan sapi, terkadang jika ada waktu ia juga menerima orderan naik kelapa.
Suatu hari ia mendapat orderan naik kelapa, hari itu ia sanggup menghabiskan 35 batang pohon kelapa, setelah ia panjat dan petik buah kelapa ia beristirahat di bawah pohon kelapa, tak lain minumannya adalah jus kelapa muda. Waktu itu anaknya yang sudah bersekolah di SMP pun ikut bersama Pak Maun.
Ide cemerlang pun lahir di tengah cengas –cengos nafasnya, ia berpikir bahwa salah satu cara untuk membunuh gaya gemulai anak laki –lakinya dengan menyuruhnya bekerja berat.
Karena anaknya masih anak-anak, iapun belum memberinya tugas naik kelapa, tapi untuk pertama, si anak di wajibkan untuk mencari rumput dan mengangkut dengan cara ngepok. Dengan cara itu pak Maun berharap anaknya saat ngepok goni rumput akan mengerahkan tenaga, sehingga Gaya gemulai dapat hilang dengan sendirinya.
Praktik itu ada hasilnya, anaknya mulai berkurang gaya gemulainya, dan baru kemudian test cash selanjutnya, yaitu memintanya untuk membantu ia naik kelapa, pertama diminta satu atau dua batang.
Dengan cara naik kelapa Pak Maun membayangkan bahwa kekuatan kaki dan seluruh badan akan terkonsentrasi dan tidak ada peluang “Peubencong-bencong dro” (Bergaya Gemulai). Ternyata strategi Pak Maun membawa hasil, tamat SMA anak lakinya betul-betul laki-laki……ha..ha... AT | RD | TrafficResearch|











Posting Komentar