Jakarta | acehtraffic.com- Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memprediksikan harga minyak kelapa sawit (crude palm oil) akan membaik pada Oktober mendatang yaitu mencapai hampir US$1.000 per ton dibandingkan dengan saat ini yang turun dratis pada kisaran US$896-US$900 per ton.
Ketua Bidang Pemasaran Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Susanto mengatakan harga CPO pada Agustus tahun ini sekitar US$920 per ton, sedangkan untuk penyerahan September turun menjadi US$896 per ton dan penyerahan Oktober mendatang US$907 per ton.
Ketua Bidang Pemasaran Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Susanto mengatakan harga CPO pada Agustus tahun ini sekitar US$920 per ton, sedangkan untuk penyerahan September turun menjadi US$896 per ton dan penyerahan Oktober mendatang US$907 per ton.
“Artinya kita lihat tren pada Oktober [harga CPO] akan naik lagi,” ujarnya, Selasa 14 Agustus 2012 lalu.
Dia mengakui harga CPO saat ini turun drastis, karena stok komoditas itu di Malaysia mencapai 2 juta ton, yang merupakan stok tertinggi sejak 2010. "Ini sangat berpengaruh, karena ekspor Malaysia melemah, tetapi stoknya tertinggi dan tentunya menekan harga."
Susanto menuturkan ekspor CPO Malaysia melemah, tetapi impor komoditas itu oleh Negeri Jiran itu justru meningkat. Ekspor CPO Indonesia ke Malaysia, katanya, mencapai 2 juta ton. "Kan Malaysia tidak dapat ekspor, jadi Malaysia harus menyimpan stok . Saat ini, untuk perkiraan harga, kemungkinan masih bisa menurun sampai dengan pasca Lebaran."
Dia memperkirakan harga CPO akan kembali membaik mulai September mendatang. Pada Oktober 2012, katanya, diharapkan harga CPO dapat lebih tinggi kembali ke posisi hampir mendekati US$1.000 per ton.
"Kita juga perhatikan kondisi ekonomi di China, pada kuartal II/2012 lebih baik daripada kuartal pertama, maka ekspor di sana akan naik. Kemudian India memasuki Oktober akan masuk dalam Divapelli [musim lebaran], nah itu harganya juga akan naik," jelasnya.
Susanto menjelaskan adanya penurunan harga CPO tersebut, karena terjadi penurunan permintaan dan adanya masalah ekonomi makro di Eropa, China, dan Amerika Serikat.
"Seharusnya kondisinya kita melihat suplai–demand naik, karena kondisi musim kering di Amerika Utara dan Amerika Selatan menyebabkan gagal panen kedelai, sehingga pasokan terhadap minyak kedelai berkurang dan otomatis itu akan mendorong harga CPO naik, tetapi ternyata tidak."
Susanto memaparkan pada saat harga minyak kedelai turun, harga minyak sawit juga turun. Permintaan minyak nabati, katanya, melemah disebabkan pertumbuhan ekonomi yang melemah khususnya pengaruh dari krisis Eropa yang berkepanjangan.
Sementara itu, produksi minyak kelapa sawit sampai Januari-Juni 2012 sudah mencapai 9,5 juta ton. Ekspor minyak kelapa sawit sampai dengan Juni tahun ini mencapai 7,9 juta ton. Volume ekspor minyak kelapa sawit pada semester II/2012 diperkirakan dapat mencapai 9,7 juta ton. Dia memprediksikan volume ekspor minyak kelapa sawit pada tahun ini mencapai 17,59 juta ton.
Menurutnya, volume ekspor CPO pada Juli tahun ini turun menjadi 1,14 juta ton dari rata-rata 1,3 juta ton per bulan. Volume ekspor CPO pada Juni misalnya mencapai 1,14 juta ton, Mei 2012 1,36 juta ton. Volume ekspor CPO pada semetser I, katanya, sekitar 45%, sedangkan pada semester II akan mencapai 55%.
Menurutnya, perhitungan Gapki sepanjang 2012, volume ekspor CPO akan mencapai 17,59 juta ton. “Memang di bawah dari perkiraan awal tahun ini yang dapat mencapai 18 juta ton, akan ada penurunan, salah satu sebab kondisi makro ekonomi dunia, krisis Eropa, pertumbuhan ekonomi China melemah.”
China menargetkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I/2012 7,8%, tetapi hanya terealisasi 7,6%. “Ini tentu mengurangi permintaan.” Dia menuturkan tanda-tanda harga CPO masih akan bergerak turun yaitu pertumbuhan ekonomi khususnya penyelesaian krisis Eropa dan pertumbuhan ekonomi China.
Menurutnya, harga CPO bisa turun sampai di bawah US$900 per ton. Namun, harga CPO akan bergerak mendekati US$1.000 per ton pada Oktober mendatang.
Susanto optimistis harga CPO sampai akhir tahun ini akan mencapai US$1.000 per ton. “Lebih sedikit, tidak dapat lebih dari itu [US$1.000 per ton].”
Namun, harga CPO juga dipengaruhi oleh perkembangan harga minyak mentah di dunia. Jika harga crude oil naik, maka harga minyak sawit akan naik lagi
Menurutnya, volume ekspor CPO pada Juli tahun ini turun menjadi 1,14 juta ton dari rata-rata 1,3 juta ton per bulan. Volume ekspor CPO pada Juni misalnya mencapai 1,14 juta ton, Mei 2012 1,36 juta ton. Volume ekspor CPO pada semetser I, katanya, sekitar 45%, sedangkan pada semester II akan mencapai 55%.
Menurutnya, perhitungan Gapki sepanjang 2012, volume ekspor CPO akan mencapai 17,59 juta ton. “Memang di bawah dari perkiraan awal tahun ini yang dapat mencapai 18 juta ton, akan ada penurunan, salah satu sebab kondisi makro ekonomi dunia, krisis Eropa, pertumbuhan ekonomi China melemah.”
China menargetkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I/2012 7,8%, tetapi hanya terealisasi 7,6%. “Ini tentu mengurangi permintaan.” Dia menuturkan tanda-tanda harga CPO masih akan bergerak turun yaitu pertumbuhan ekonomi khususnya penyelesaian krisis Eropa dan pertumbuhan ekonomi China.
Menurutnya, harga CPO bisa turun sampai di bawah US$900 per ton. Namun, harga CPO akan bergerak mendekati US$1.000 per ton pada Oktober mendatang.
Susanto optimistis harga CPO sampai akhir tahun ini akan mencapai US$1.000 per ton. “Lebih sedikit, tidak dapat lebih dari itu [US$1.000 per ton].”
Namun, harga CPO juga dipengaruhi oleh perkembangan harga minyak mentah di dunia. Jika harga crude oil naik, maka harga minyak sawit akan naik lagi












Posting Komentar